Kepentingan politik elit PKB bakal terkuak

Poros Tengah Jadi Ujian Baru Bagi Gus Ipul

Image
Sunday, 07 January 2018 | 23:26:27 WIB


SURABAYA (Nusapos.com)  - Situasi dilematis benar-benar dialami Gus Ipul bersama PKB pada masa injury time karena masa pendaftaran calon di KPU Jatim tinggal tiga hari lagi. Ironisnya, DPP PDIP tak kunjung memutuskan siapa pengganti Abdullah Azwar Anas setelah menggembalikan mandat pencalonan Bacawagub Jatim ke DPP PDIP.

Kekalutan ini membuat Bacagub Jatim dari koalisi PKB-PDIP mencoba mencari solusi dengan mendekati partai-partai poros tengah yang dimotori Gerindra, PAN dan PKS dengan harapan mereka bisa ikut memperkuat barisan koalisi di Pilgub Jatim 27 Juni 2018.

Namun dukungan tersebut tentu tidak gratis, bahkan malah menjadi ujian baru bagi pria yang juga menjabat ketua PBNU ini lantaran Poros Tengah mengajukan syarat pengganti Anas berasal dari partai poros tengah, sehingga sama halnya hendak mengambil jatah PDIP yang sudah menjadi kesepakatan awal koalisi PKB-PDIP.

Menurut Dekan FISIP Unijoyo Madura, Surokim Abdussalam akan banyak efek yang bisa ditimbulkan jika PKB dan PDIP sampai pecah kongsi. Bahkan situasi kontestasi Pilgub DKI Jakarta pada Pilgub 2017 bisa ditemplete di Jatim. "Akan butuh waktu lama untuk memulihkan kondisi dan terlalu besar harga yang harus dibayarkan masyarakat Jatim demi sekadar kontes Pilgub," terangnya saat dikonfirmasi Minggu (7/1) kemarin.

Sejak awal, sudah diprediksi bahwa Pilgub Jatim kental nuansa Pilpres 2019 karena Jatim merupakan barometer politik nasional. "Masyarakat Jatim patut waspada karena banyak pihak sedang mengiring templete koalisi Jakarta diadopsi di Jatim demi agenda kekuasaan belaka tanpa memikirkan bangunan demokrasi Jatim yang harmonis," harap Surokim

Diakui Surokim, ada upaya sistematik menemplet konflik Jakarta ke Jatim memanfaatkan waktu injury time pendaftaran calon. Polarisasi konflik model DKI akan meruntuhkan bangunan peradaban demokrasi yang sudah susah payah dibangun masyarakat Jatim selama ini

"Patut diwaspadai situasi ini akan merugikan masyarakat relegius dan nasionalis termasuk hubungan masa depan keduanya di Jatim. Efeknya juga akan besar bagi hubungan politik dan juga ulama di jatim. Politik nahdliyin rahmatan lilalamin (islam nusantara) ala NU Nusantara  bisa terancam," ungkapnya

Ditegaskan Surokim, koalisi PKB-PDIP di Pilgub Jatim bukan sekadar koalisi kekuasaan tetapi juga bisa meletakkan dan menjamin tata hubungan inklusif di masyarakat Jatim ke depan. " Pilihan tepat bagi Gus Ipul dan PKB maupun PDIP adalah mempertahankan koalisi. Selain faktor sejarah juga kepentingan hubungan kedua partai di masa depan di Jatim. Dari tatanan bangunan demokrasi juga relatif menjanjikan di tengah mengerasnya konflik identitas dalam Pilkada di Indonesia," jelasnya.

Yang menarik sejak tsunami politik di injury time Pilgub Jatim, PKB terkesan diam seribu bahasa seolah menjadi korban yang paling dirugikan. Padahal bisa jadi ibarat pepatah "lempar batu sembunyi tangan" sehingga yang menjadi sasaran kambing hitam adalah PDIP.

Pengamat komuniskasi politik Unair Surabaya, Sukowido tidak membantah jika praduga tersebut dalam dunia politik mungkin saja terjadi. Namun menemukan pemicunya pasti kembali pada kepentingan politik di 2019. "Santer diwacanakan Cak Imin maju Pilpres menjadi RI-2. Bisa jadi bakal calon presiden yang diharapkan mau menggandeng menolak sehingga melakukan pembalasan atau sebaliknya justru Bacapres mau menggandeng Cak Imin syaratnya koalisi dengan PDIP di Pilgub Jatim ditinjau ulang," dalihnya.

Kondisi seperti itu justru yang menjadi korban sebenarny adalah Gus Ipul dan Anas karena bisa jadi gagal maju  atau tetap maju tapi dengan pasangan dan mesin politik yang ideal untuk bisa memenangkan kontestasi Pilgub Jatim. "Saya tak bisa membayangkan bagaimana respon dari para kiai NU kalau kader terbaik NU yang mereka gadang-gadang menjadi Gubernur Jatim akhirnya gagal maju di Pilgub Jatim atau maju tapi kalah," pungkas pria murah senyum ini. (tis) 

Sumber : -

Laporan : Try

Editor : Red

loading...

Whoops, looks like something went wrong.