Ujian di injury time bagi koalisi PKB dan PDIP

Political Entrepreneur Mulai Tebar Ranjau di Pilgub Jatim

Image
Friday, 05 January 2018 | 23:48:51 WIB


Political Entrepreneur Mulai Tebar Ranjau di Pilgub Jatim
- Ujian di injury time bagi koalisi PKB dan PDIP

SURABAYA (Nusapos.com) - Setelah partai poros tengah gagal meminang Yenny Wahid untuk diusung di Pilgub Jatim 2018, konstelasi politik jelang pendaftaran pasangan calon di KPU Jatim langsung memanas drastis. Pasalnya, salah satu pasangan calon dikabarkan hendak mengundurkan diri dari pencalonan setelah dijadikan sasaran tembak black campaign melalui isu moral. 

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang diusung  PDIP sebagai Bacawagub mendampingi Saifullah Yusuf (Bacagub dari PKB) secara tidak langsung mengalami Character Assassionation (pembunuhan karakter) karena foto syur yang mirip dia bersama seorang perempuan disebar melalui media sosial dan ke sejumlah kiai sepuh di Jatim.

Tak ayal, Gus Ipul sapaan akrab Saifullah Yusuf sebagai pasangan calon maupun PDIP dan PKB selaku partai pengusung pasangan dengan jargon "Jatim Puas" harus berjibaku menetralisir isu yang mendiskreditkan Anas hingga mencari pengganti Anas di injury time.

Menurut pengamat politik dari Unijoyo Madura, Surokim Abdussalam semua kemungkinan (kejutan) jelang hari H pendaftaran paslon itu sangat terbuka karena kepentingan yang saling berkelindan. Apalagi di era sekarang sebagaimana diprediksi banyak ahli intensitas munculnya politik kotor dan banal akan semakin meninggi karena terkait kepentingan politik praktis meraih kekuasaan an sich tanpa mempertimbangkan kehormatan dan marwah kekuasaan

Ironisnya, banyak pihak justru menempuh dan hobby menempuh jalan kotor dan negatif hanya demi meraih kemenangan kekuasaan. Padahal mereka itu juga  sebenarnya paham marwah kebaikan politik. "Para political enterpreneur yang bermain dalam situasi itu sehingga akan membuat berbahaya dan cenderung menuju politik gaduh," ungkap Dekan FISIP Unijoyo ini.

Situasi memanas itu memang sengaja diciptakan dengan tanpa disadari dibawa ke dalam situasi politik gaduh dan masuk dalam festival  hore hore politik tanpa makna dan menyumbang kualitas demokrasi. "Libido para political enterpreneur yang tinggi kerap membikin situasi politik menjadi panas dan penuh kecurigaan. Bibit konflik seolah ditumbuhkan dan ini yang membuat situasi kerap menuju gaduh dan banal," tegas Surokim.

Diakui Surokim, banyak orang yang berkepentingan dalam Pilgub Jatim sehingga serba terbuka semua manuver politik menjelang pendaftaran calon, termasuk manuver black campign terhadap Abdullah Azwar Anas. "Jika serpihan-serpihan informasi di media itu dikumpulkan pasti akan bisa diketahui motif dan siapa yang bermain sesungguhnya, dan itu sebagian besar dilakukan oleh para political enterpreneur prefesional," imbuhnya

Kalau dicermati seksama, lanjut Surokim sebenarnya akan mudah diketahui adanya pola-pola dan model yang tidak lazim dan dilakukan by design. Cawagub Jatim Anas kali ini jadi sasaran tembaknya relatif sensitif. Sebab isu etis (moral) yang hendak dimainkan biasanya membutuhkan waktu recovery cukup lama. Sebaliknya jika yang diserang itu soal kompetensi dan kapasitas calon maka recovery nya bisa lebih cepat. "Karena yang diserang ini sisi etis maka kandidat (calon) biasanya butuh energi ekstra untuk menghadapi," beber Surokim.

Konsekwensi yang dihadapi Anas jika bersikukuh tetap maju walaupun diterpa isu etika, kata Surokim adalah partai pengusung akan dianggap konsisten, dan teguh pendirian. "Namun dampak minusnya akan mematik penasaran banyak pihak dan energi pemenangan akan banyak tersedot ke arah itu untuk menepis rumor dan rasa ingin tahu dan penasaran publik," ujarnya.

Karena fokus tim pemenangan yang berbeda itu juga berpotensi mematik faksi dikoalisi partai pendukung Gus Ipul-Anas. "Perbedaan fokus dan penyikapan terhadap masalah itu biasanya partai koalisi ingin onfire pada pemenangan dan tidak mau ribet menghadapi rumor berkepanjangan," katanya.

Potensi perbedaan penyikapan antarpartai koalisi sangat terbuka dan bisa terjadi jika PKB sebagai pengusung Bacagub merasa tidak sepakat terhadap langkah yang diambil PDIP sehingga mengambil langkah pecah koalisi. "Sebaliknya kalau PKB menerima setengah hati, karena kurang sepakat mempertahankan Anas itu juga bikin soliditas koalisi tidak maksimal," imbuhnya.

Di tambahkan Surokim, politik last minute di Pilkada selalu penuh kejutan. Bahkan jika PKB-PDIP sampai pecah kongsi akibat isu yang menerpa Anas, maka sangat terbuka peluang konfigurasi koalisi baru  di Pilgub Jatim. "Bisa jadi PKB akan ganti berkoalisi dengan Gerindra dan PDIP berkoalisi dengan NasDem atau PAN.
Semua serba terbuka di last minute," kelakar Surokim.

Pilgub Jatim akan semakin seru, karena isu etika itu bisa dijadikan sebagai pemantik untuk terjadinya poros baru di Pilgub Jatim yang selama ini cenderung mengalami kebuntuan karena tidak adanya kesepakatan yang dicapai oleh Gerindra, PAN dan PKS.

"Akan semakin seru, tergantung arah anginnya kemana kesepakatan antarpartai itu. Jika PKB pecah kongsi dengan PDIP di Pilgub Jatim, Gerindra akan diuntungkan dan punya peluang menyalip di last minute. Kalau isu Anas ini gagal diantisipasi PKB dan PDIP, maka  berpotensi merubah dan membawa dampak pada konfigurasi koalisi di Pilgub Jatim," pungkasnya. (tis)


Sumber : -

Laporan : Try

Editor : Red


loading...
Post
Nasional
Post
Kepulauan Meranti
Post
Jatim
Post
Inhil
Post
rohil

Rohil Waspadai Difteri

1 minggu yang lalu