Pengamat Politik Prediksi Yenny Tolak Maju Pilgub Jatim

Image
Thursday, 04 January 2018 | 00:17:38 WIB



Pengamat politik prediksi Yenny Tolak Maju Pilgub Jatim

SURABAYA (Nusapos.com)  - Muncunya nama Yenny Wahid dalam bursa Cagub Jatim diusung koalisi poros tengah yang dimotori Partai Gerindra, Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Pilgub Jatim 2018, nampaknya membuat sejumlah kalangan termasuk pengamat politik terperanjat.

Bahkan pengamat komunikasi politik dari Unair Surabaya, Sukowidodo menilai puteri KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bisa menjadi figur alternatif utama Cagub Jatim bagi pemilih yang masih ragu tentukan pilihan (swing voter) di Pilgub Jatim  mendatang.

"Jumlah swing voter berdasarkan hasil berbagai lembaga survey cukup besar yakni diatas angka 40 persen dari jumlah pemilih. Sehingga peluang Yenny memenangkan Pilgub Jatim masih terbuka jika sanggup meyakinkan pemilih yang belum menentukan pilihan," ujar Sukowidodo saat dikonfirmasi Rabu (3/12) kemarin.

Dari sisi personality, kata Sukowidodo isteri Dhohir Farisi itu masih bisa menyamai Bacagub yang sudah ada baik Saifullah Yusuf (Gus Ipul) maupun Khofifah Indar Parawangsa (KIP). "Keunggulan Gus Ipul itu atraktif, sedangkan Khofifah itu karena expert, dan Yenny itu karena kharismatik. Jadi pemanang Pilgub sangat bergantung pada kesolidan mesin politik yang bekerja di lapangan," tegasnya. 

Kendati demikian, kharismatik Yenny belum bisa menyamai Gus Dur karena meskipun Yenny anak presiden ke empat Indonesia tapi dia tak memiliki akar massa yang kuat di Jatim. "Karakteristik pemilih tradisional itu mudah berubah. Partai-partai pengusung Yenny harus bergerak massif jika ingin menang sebab start mereka terlambat," tambah Sukowidodo.

Senada, Dekan Fisip Unijoyo Madura, Surokim Abdussalam menyatakan bahwa pinangan partai poros tengah Jatim yang ingin mencalonkan Yenny Wahid sebagai Cagub di Pilgub Jatim adalah dilematis dan sangat mengejutkan bagi keluarga besar Ponpes Tebuireng Jombang maupun poros lain di Pilgub Jatim 2018. 

"Kalau Mbak Yenny jadi maju, yang paling banyak  tergerus suaranya adalah Khofifah, khususnya pemilih perempuan. Sebaliknya Gus Ipul justru lebih diuntungkan karena pendukungnya tak banyak berkurang," jelas Surokim.

Daya magnitute Mbak Yenny sebagai putri biologis Gus Dur, lanjut Surokim masih cukup kuat dalam tradisi masyarakat di pedesaan. Apalagi masyarakat yang sangat percaya kalau Gus Dur adalah seorang wali. "Mbak Yenny akan sangat efektif dan bisa mengambil ceruk pemilih tradisional pedesaan yang selama ini sudah bersimpati ke Gus Ipul maupun Khofifah," bebernya.

Kendati demikian, Surokim meyakini Yenny Wahid tidak mudah menerima pinangan Partai Gerindra dan partai lain yang masuk poros tengah di Jatim. Sebab  akan banyak rintangan baik dari keluarga maupun dari eksternal. "Saya justru meyakini peluangnya tipis karena dilematisnya sangat besar," dalihnya.

Keterlambatan kemunculan Yenny dan minimnya daya edar di Jatim juga sangat berpengaruh terhadap peluang mendapatkan limpahan suara swing voter. Padahal, politik sapa temu muka itu paling kuat memengaruhi elektabilitas pemilih di Jatim. "Restu keluarga juga akan memberatkan Yenny sebab pamannya Gus Sholah sudah ada di Khofifah," tambah Surokim.

Sementara itu dari kalkulasi suara, kata Surokim, Mbak Yenny masih memiliki peluang untuk bisa bersaing karena suara swing voter masih besar. "Yang harus dihindari itu justru motif maju hanya sekadar ikut kompetisi dan sengaja dimainkan untuk memecah suara, makanya itu harus disikapi hati-hati. Jika itu yang menjadi motif maka akan berbahaya bagi masa depan politik Mbak Yenny," tegasnya

Pertimbangan lainnya, modal ekonomi juga wajib diperhatikan oleh Mbak Yenny. Mengingat Pilgub Jatim tidak murah alias mahal. "Hati-hati Mbak Yenny bisa masuk jebakan politis. Sebab nama besar Gus Dur memang mudah dijual ke broker politik," kata pria asli Lamongan ini.

"Saya juga membayangkan kalau Mbak Yenny mau maju, Pilgub Jatim ini akan benar-benar menjadi ajang pertaruhan perang keluarga batih NU dan potensial mengobrak-abrik tatanan adab takdim politik dalam tubuh warga nahdliyin yang semakin egaliter dan meleburnya patron politik NU," imbuhnya.

Ia menyarakan sebelum mengambil keputusan, Mabk Yenny sebaiknya sowan dan meminta petunjuk dari kiai-kiai sepuh karena merekalah sejatinya benteng pertahanan kultur politik di Jatim. Warga NU Jatim juga akan mendapat tes dan pelajaran berharga. "Semoga tidak mengeraskan potensi konflik di akar rumput. Selamat datang era baru egalitarianisme politik warga NU Jatim, politik maslahah atau mudharat, kita simak saja kepastiannya," jelas Surokim.

Senada, pengamat politik dari Unibraw Malang, Faza Dora Nailufar mengatakan tersebarnya keluarga Wahid di beberapa calon yang maju di Pilgub Jatim adalah sesuatu yang lumrah. "Keluarga besar Ponpes Tebuireng sejak dari dulu sudah sangat demokratis, hal ini dibuktikan dengan tersebarnya keluarga pondok di beberapa partai politik," kata Faza.

Menurut perempuan berjilbab, munculnya nama Yenny Wahid di Pilgub Jatim justru bisa menjadi contoh yang baik bagi masyarakat Indonesia khususnya Jatim bahwa berbeda pandangan politik dalam satu keluarga itu biasa,dan jangan sampai perbedaan itu memecah belah keluarga.

"Peluang Yenny di Pilgub Jatim itu bagus bahkan bisa menjadi calon alternatif. Ini contoh good practice yang baik dalam berpolitik dan demokrasi. Yenny juga berpeluang menggerus suara NU di Gus Ipul dan Khofifah. Tapi untung menang, masih bergantung siapa pasangannya," pungkas Faza Dora Nailufar. (tis) 

Sumber : -

Laporan : -

Editor : Try Wahyudi Ary Setyawan

loading...

Whoops, looks like something went wrong.